Garuda Indonesia : Melayani Negeri, Mencerdaskan Anak Bangsa

 

"Managing people menjadi hal yang paling dominan" - M. Arif Wibowo (CEO Garuda Indonesia)

Kutipan kalimat di atas bukanlah sekedar isapan jempol belaka yang disampaikan oleh CEO Garuda Indonesia, Bapak M. Arif Wibowo pada kuliah umum yang dibawakan di kampus UI Salemba tepatnya kepada ratusan mahasiswa Magister Management Universitas Indonesia (MMUI) yang memenuhi auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada tanggal 17 Februari 2017. Sebagai seorang Top Leader perusahaan Penerbangan Nasional (Garuda Indonesia) dengan visi dan misi untuk menjadi perusahaan penerbangan terdepan dengan layanan yang berkualitas, beliau menyatakan bahwa pengelolaan SDM menjadi kunci penting untuk membawa maskapai penerbangan nasional Indonesia ini meraih prestasi yang membanggakan di level nasional maupun internasional. CEO dengan Background pendidikan yang lengkap, S1 teknik mesin dari Institut Teknologi Sebelas November Surabaya (ITS Surabaya) dan Magister Management Universitas Indonesia (MMUI), menjelaskan bahwa seorang leader harus mampu mengayomi para karyawan untuk memahami arah tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi, sehingga semua pihak dapat bergerak ke arah yang sama. Pengelolaan SDM dilakukannya di semua level, dari yang paling bawah hingga yang paling atas, istilahnya from muscle to brain. Mengapa pengelolaan SDM ini menjadi penting? Karena menurut beliau, merekalah yang akan membuat Balance Sheet perusahaan tetap stabil, PnL (Profit & Loss Statement) tetap positif, dan cash flow perusahaan tetap kuat. Ketiga parameter tersebut berperan sebagai lagging indicator. Di sisi lain, leading indicator dilakukan melalui penyampaian visi misi dan pesan-pesan strategis setiap bulan, quarterly, atau tahunan.

Jika meninjau napak tilas perjalanan Garuda Indonesia, begitu banyak hal yang dapat dipetik. Garuda Indonesia yang pada awalnya hadir sebagai pemain tunggal harus mampu berkompetisi dengan maskapai penerbangan lainnya. Tahun 2011 merupakan tonggak sejarah bagi Garuda Indonesia yang bertransformasi dari BUMN dengan seragam KORPRI menjadi BUMN yang Go Public. Perubahan ini tak ayal membuat top management mengatur strategi untuk memenangkan persaingan yang menjadi semakin ketat, salah satunya dengan melaksanakan program "Quantum Leap". Hingga saat ini Garuda Indonesia adalah maskapai indonesia pertama yang bergabung dengan SkyTeam. Dengan wilayah terbang yang terus bertambah luas baik di dalam maupun luar negeri, Garuda Indonesia terus memperkokoh eksistensi dengan daya saing yang kuat di Asia Tenggara. Terlebih, dengan bergabung bersama aliansi SkyTeam, Garuda Indonesia siap untuk terhubungkan dengan lebih 1.000 kota destinasi di seluruh dunia

Ditengah sengitnya persaingan dunia transportasi udara, Citilink hadir sebagai second brand untuk berkompetisi dengan maskapai domestik low budget yang sudah mulai menarik pasar dengan harga yang lebih rendah dari tarif Garuda Indonesia. Bapak Arif Wibowo yang pada tahun 2012 menjabat sebagai Direktur Utama Citilink berhasil menorehkan prestasi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun yaitu dengan menambah pesawat Citilink dari 9 menjadi 24 buah pesawat. Pada Desember 2016, jumlah pesawat Citilink telah mencapai 50 buah pesawat. Jika dibandingkan dengan para pesaingnya yang memerlukan waktu belasan tahun untuk bisa mencapai 30 buah pesawat. Tentu saja spin off yang dilakukan oleh jajaran manajemen patut diberikan apresiasi yang mendalam.

Garuda Indonesia yang sudah memasuki usia paruh baya 68 tahun, ternyata masih menunjukkan semangat millenial untuk berkiprah di tingkat nasional, regional, dan bahkan internasional. Market share domestik yang saat ini sebesar 41,2% (termasuk Garuda dan Citilink) ditargetkan menjadi 50% di tahun 2020, sementara itu market share internasional yang baru mencapai 26,7% ditargetkan untuk naik menjadi 40% pada tahun yang sama, di tahun 2020.

Target kenaikan market share domestik dilakukan Garuda salah satunya dalam rangka memberikan pelayanan kepada 4,5 juta penduduk yang ada di wilayah Indonesia. Ditambah lagi, Garuda Indonesia juga berkomitmen mendukung program pemerintah khususnya di bidang pariwisata dengan meningkatkan jumlah penerbangan pada 10 destinasi wisata yang tersebar di penjuru negeri. Untuk menjawab tantangan tersebut, Garuda Indonesia harus mengatur strategi salah satunya menyiapkan armada yang lebih banyak. Tantangan Garuda Indonesia ke depan akan semakin memacu adrenalin top level management dan di level grassroot.

Selain itu, Garuda Indonesia juga memiliki keinginan untuk menjadi salah satu pioneer BUMN yang dapat memberikan manfaat lebih terutama dalam hal pendidikan. Atas dasar hal tersebut, Garuda Indonesia melakukan langkah positif untuk mempertemukan supply and demand tenaga kerja profesional serta future global leader yang think global and act global. Garuda Indonesia pun memberikan support kepada para mahasiswa Magister Management Universitas Indonesia dalam acara Global Field Study (GFS), sebuah program tahunan yang bertujuan untuk mempersiapkan para mahasiswa MMUI sebagai future global leaders. Program Global Field Study 2017 yang akan diikuti sekitar 30 (tiga puluh) mahasiswa MMUI pada bulan Agustus 2017 ini akan diadakan di Skandinavia dengan mengusung tema utama yaitu digital and innovation leadership. Melihat tema utama yang diusung, Garuda Indonesia menyetujui bahwa inovasi merupakan salah satu skill yang harus dimiliki untuk mampu bersaing dalam era globalisasi ini.

Mengapa Skandinavia? Karena beberapa Negara Skandinavia yaitu Swedia dan Denmark merupakan negara paling inovatif didunia versi Global Innovation Index (GII) tahun 2016, sedangkan di tahun yang sama, Indonesia menduduki peringkat 88. Dengan adanya program GFS, diharapkan Indonesia dapat memperoleh peluang dari Eropa dan Skandinavia khususnya.

Selain itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga telah menghimbau agar perusahaan industri BUMN melakukan study ke beberapa negara Skandinavia dalam hal peningkatan inovasi dan produktifitas sehingga target industri perusahaan BUMN dapat tercapai secara maksimal.

Program Global Field Study 2017 juga diharapkan dapat menghasilkan kerjasama pendidikan dalam bidang innovation dan digital dengan negara Skandinavia sehingga dapat menciptakan inspirasi baru untuk masyarakat Indonesia. ( SC MMUI)